September 9 , 2010
Soundtrack today : Attack It _ ARASHI
We’re gonna jump Towa ni sakuhazu
Kokoro namidatsu Mazariau music
I’m gonna goal Tsukisusumu course
Kawaranai soul Tomaranai music
We’re gonna jump, Surely going to blossom for eternity
The rippling waves of the heart blends together the music
I’m gonna goal! Pushing through the course
Unchanging soul Unstopping music
Halo halo halo again. I am really in the mood of writing! Haha... full energy. Jadi ini ceritanya di bulan juli 2010, tepatnya tanggal 23 juli 2010. Aku sedang tugas ke Houston Texas. Kebetulan di pesawat, ada flatmate temanku dari Romania. Tiba2 dia ngajakin untuk skydiving. Dia bilang ada crew Romania satu lagi (Ionela) akan pergi sama copilotnya (Enrique). Kenapa kita ngga ikut aja.
Dalam bayanganku, skydiving ya? Hmm, idolaku, Arashi, juga pernah melakukan skydiving. Ohno kun, Matsujun dan Sho kun. Aku takjub sama mereka, terutama Sakurai Sho yang takut ketinggian, bisa lompat dari pesawat dan skydiving. Bagiku aku ingin seperti mereka.
Ninied : "Okay. I'll join." dengan nada datar dan tanpa takut.
Sid : "Sure, ya?! Don't change your mind!" Ninied : "I won't!"
Sesampainya di Houston, ternyata ada berita bahwa tropical storm Bonnie datang mendekat ke arah Houston. Aku yang mendengar berita itu, sedih sekaligus hepi karna ada kemungkinan untuk ngga jadi skydiving.
Ionela : "Putu, I am afraid we cant do it. But I will inform you as soon as I contacted them. I hope we still can do it."
Ninied : "Yeah" Ooow. Antara seneng dan sedih bo.
Keesokan paginya aku bangun pagi dan sarapan. Jam 8 pagi, Ionela menelepon dan bilang kalau dia sudah mengontak tempat dia booking skydivingnya, dan harus berangkat pagi2 karna dia janji jam 10. Dan karna itu badai datang mendekat, kita harus secepatnya lompat dari pesawat. Janji kumpul jam 9.
Yang aku bingung adalah:
1. Aku ngga bawa baju petualang. Karena aku ngga prepare buat sporty apalagi extreme activity, aku ngga bawa baju yang sesuai untuk kegiatan ini. Bajuku semua dress summer dan ada blus bunga2 dan rompi biru. Aku bawa jeans dan sneakers, tapi atasannya ngga banget. Terpaksa aku mix and match semua. walopun hasilnya norak.
2. Ngga prepare duit buat extreme sport. Kata Ionela, biayanya sekitar 300USD belum termasuk ongkos nyewa mobil. Jadi aku lari ke mall underground dan narik duit di atm.
Jam 9 kami kumpul di lobby. Enrique sudah dibawah. Sesaat kemudian Ionela datang. Lho Sid mana? Ionela bilang, dia ngga jadi ikut karena ada janji sama temennya di siang itu. Dia malah minta kita mengulur waktu, yang tentunya ditolak mentah2 sama Ionela.
Ionela : "She wants us to postphone the time until she came back. I told her that we cant. The storm is coming and I already booked this since long time. Why we should follow her? It's fine if she's upset!"
Aku jadi merasa ngga enak. Masalahnya yang ngajak aku adalah Sid.
Lalu kami pergi ke hotel Hilton naik shuttle, ke tempat rent car. Dan ternyata ...
Enrique : "Putu, you have driving license?"
Ninied : "Yes, I have. Why?"
Enrique : " I forgot to bring it. Can we use yours?"
Alamakjang. SIMku itu pun cuma sim indonesia yang baru aja diperpanjang 2 minggu sebelumnya. Ionela malah ngga punya sama sekali. Aku mikir bisa ngga ini sim indonesia dipake di negeri orang, Amerika lagi!
Aku serahkan SIMku ke mbak Alison, penjaga stand rent carnya. Dia ngeliatin aja. "Are you going to drive?" Aku jawab "Yes."
"So it has to be you who drives the car. We are not responsible for any accident by third party."
Huwaaaa... Di Bali aja aku nyetir masih suka mogok. Gimana ya kalo di US?
Tanda tangan ini itu, passport dll, lalu kami diantar ke depan, dan mobilnya dateng. Toyota Prius, mobil hybrid yang sangat modern. Aku test drive dulu dong (gaya amat). Nyetir keliling area drop offnya hotel hilton. Pusing bo. Aku biasa setir kanan, ini setir kiri. Aku biasa mobil manual, ini automatis. Aku biasa ngutakngatik audio di dashoboard, eh ini di setirnya sudah ada remotenya. Setelah menghilang dari penglihatan mbak Alison. Maka Enrique lah yang mengambil alih setir. Fiuuh!
Perjalanan ke tempat skydiving lumayan jauh. Kami melalui jalan besar selama 1 jam lebih. Nama jalannya juga aneh. Farmer market street (kayak maen farmville). Sepanjang perjalanan kulihat hamparan padang rumput luas dan ranch dengan isinya, kuda, sapi dan domba.Dalam bayanganku, skydiving ya? Hmm, idolaku, Arashi, juga pernah melakukan skydiving. Ohno kun, Matsujun dan Sho kun. Aku takjub sama mereka, terutama Sakurai Sho yang takut ketinggian, bisa lompat dari pesawat dan skydiving. Bagiku aku ingin seperti mereka.
Ninied : "Okay. I'll join." dengan nada datar dan tanpa takut.
Sid : "Sure, ya?! Don't change your mind!" Ninied : "I won't!"
Sesampainya di Houston, ternyata ada berita bahwa tropical storm Bonnie datang mendekat ke arah Houston. Aku yang mendengar berita itu, sedih sekaligus hepi karna ada kemungkinan untuk ngga jadi skydiving.
Ionela : "Putu, I am afraid we cant do it. But I will inform you as soon as I contacted them. I hope we still can do it."
Ninied : "Yeah" Ooow. Antara seneng dan sedih bo.
Keesokan paginya aku bangun pagi dan sarapan. Jam 8 pagi, Ionela menelepon dan bilang kalau dia sudah mengontak tempat dia booking skydivingnya, dan harus berangkat pagi2 karna dia janji jam 10. Dan karna itu badai datang mendekat, kita harus secepatnya lompat dari pesawat. Janji kumpul jam 9.
Yang aku bingung adalah:
1. Aku ngga bawa baju petualang. Karena aku ngga prepare buat sporty apalagi extreme activity, aku ngga bawa baju yang sesuai untuk kegiatan ini. Bajuku semua dress summer dan ada blus bunga2 dan rompi biru. Aku bawa jeans dan sneakers, tapi atasannya ngga banget. Terpaksa aku mix and match semua. walopun hasilnya norak.
2. Ngga prepare duit buat extreme sport. Kata Ionela, biayanya sekitar 300USD belum termasuk ongkos nyewa mobil. Jadi aku lari ke mall underground dan narik duit di atm.
Jam 9 kami kumpul di lobby. Enrique sudah dibawah. Sesaat kemudian Ionela datang. Lho Sid mana? Ionela bilang, dia ngga jadi ikut karena ada janji sama temennya di siang itu. Dia malah minta kita mengulur waktu, yang tentunya ditolak mentah2 sama Ionela.
Ionela : "She wants us to postphone the time until she came back. I told her that we cant. The storm is coming and I already booked this since long time. Why we should follow her? It's fine if she's upset!"
Aku jadi merasa ngga enak. Masalahnya yang ngajak aku adalah Sid.
Lalu kami pergi ke hotel Hilton naik shuttle, ke tempat rent car. Dan ternyata ...
Enrique : "Putu, you have driving license?"
Ninied : "Yes, I have. Why?"
Enrique : " I forgot to bring it. Can we use yours?"
Alamakjang. SIMku itu pun cuma sim indonesia yang baru aja diperpanjang 2 minggu sebelumnya. Ionela malah ngga punya sama sekali. Aku mikir bisa ngga ini sim indonesia dipake di negeri orang, Amerika lagi!
Aku serahkan SIMku ke mbak Alison, penjaga stand rent carnya. Dia ngeliatin aja. "Are you going to drive?" Aku jawab "Yes."
"So it has to be you who drives the car. We are not responsible for any accident by third party."
Huwaaaa... Di Bali aja aku nyetir masih suka mogok. Gimana ya kalo di US?
Tanda tangan ini itu, passport dll, lalu kami diantar ke depan, dan mobilnya dateng. Toyota Prius, mobil hybrid yang sangat modern. Aku test drive dulu dong (gaya amat). Nyetir keliling area drop offnya hotel hilton. Pusing bo. Aku biasa setir kanan, ini setir kiri. Aku biasa mobil manual, ini automatis. Aku biasa ngutakngatik audio di dashoboard, eh ini di setirnya sudah ada remotenya. Setelah menghilang dari penglihatan mbak Alison. Maka Enrique lah yang mengambil alih setir. Fiuuh!
Setelah 1 jam berlalu, kami sampai pukul 11:10 di Skydive Houston. Cukup rame juga. Ada anak-anak, remaja, orang dewasa, laki dan perempuan. Kami diberikan formulir pendaftaran, dan mengisi formulir itu, yang intinya bahwa kami siap dengan apapun yang terjadi, dan mereka tidak bertanggung jawab atas kecelakaan apapun yang mungkin terjadi.
Aku mengisi dengan pasrah. Aku ngga bilang ke mama, papa, adik-adik. Aku ngga bilang ke Denny. Aku ngga bilang ke siapa2. Yang tau cuma aku, Enrique, Ionela aja. Sid mungkin ngga tau kalo aku jadi ikutan. Terus sampailah di kolom orang yang dihubungi kalo terjadi apa2. Kuisi aja dengan nama Denny. Hahaha...
Aku memilih untuk terjun dan divideokan. Biayanya USD278. Kata Ionela, dengan video, ini sudah murah dibandingkan tempat lain.
Kami menunggu kurang lebih 1,5 jam untuk giliran kami. Selama menunggu kami diberi instruksi dan dipertontonkan video. Ada yang bilang, "kamu ngga bisa percaya siapapun kalo sudah di langit. Kamu cuma harus percaya instruktur yang akan menghabiskan 20 menit bersamamu di angkasa!"
Lalu aku mengalami gangguan jiwa untuk orang yang mau terjun bebas dari ketinggian 12000 kaki. Ngga ada histeria, ngga ada ketakutan. Aku cuma senyam senyum aja. Tanganku ngga dingin, perutku ngga mual. Aku cuma mikir, apapun yang terjadi, terjadilah.
Stacey, skydiver yang bertugas mengambil videoku, merekam videoku di darat. Disuruh bergaya pemberani. Tapi aku ngomong kacau balau.
Stacey: "So Putu! How's you're feeling?"
Ninied: "I am fine. Just blank."
Stacey : "Any words you wanna say?"
Ninied : " I am sorry I dont tell anyone about this..."
Stacey pun siap2.
Nah, 15 menit sebelum berangkat, kami di pakaikan perlengkapan yang nanti disambung ke badan instruktur. Mereka ngga memberi kami jumpsuit, karena jumpsuit itu berat, dan ini sedang summer. MAlah nanti keringetan.
Dan kami meluncur ke runway. Pesawat fokker pun merapat, dan kami membentuk barisan. Enrique masuk pertama, Ionela kedua, aku ketiga, dan sekelompok student dari skydive itu sendiri.
Hmm. Brmmm brmmm...
Pesawat take off dan mulai climbing. Mr Adam instrukturku yang akan kupercayakan hidupku padanya, mulai menyatukan perlengkapan kami. Dia memastikan semuanya bener2 safe. Pesawat ini pintunya terbuka. Terasa banget perubahan udara pas climbing. Pas 7000 ft, Stacey mulai bertanya2.
Stacey :" How do you feel?"
Ninied: "I am so excited" ya elah ini pendek2 banget jawabnya. Ngga cocok jadi penyiar TV.
Stacey : "We are halfway there. another 5000ft to go."
Ninied : "HAAAH??? Halfway??" aku liat dari jendela ini pesawat udah tinggi banget. Dan hawanya sudah dingin. Lalu kami masuk ke area awan dan dingin semakin terasa dan pesawat agak berguncang.
Stacey : "OK. Last words?" Ninied: "Mom, I am sorry I didn't tell you that I'm doing this." Sambil kasi jempol.
Lalu stacey pake helm yang ada kamera diatasnya. Sedangkan aku ditanya2 Adam, apakah aku baik2 saja.
Akhirnya pada 12000 feet, pesawat mulai tenang bunyi mesinnya. 3 orang student dan instrukturnya siap2 dan langsung terjun, menghilang dari pesawat. Tibalah giliranku. Aku bener2 blank.
Stacey sampai di mulut pintu, memberi tanda jempol dan langsung terhisap oleh angkasa. Dan aku yang terikat dengan Adam pun sampai juga di mulut pintu. This the point of no returning! I crossed my arm around my body and suddenly I was sucked into the air.
Uwaaaaaa~~
Rasanya bener2 kayak jatuh dari tempat tidur. Angin menusuk wajah dan badanku. Dan rasanya kayak naik jetcoster, jetcoster turn dari puncak tertinggi! Perutku rasanya naik semua ke atas. Pas lompat aku menutup mataku, dan 3 detik kemudian yang kulihat adalah awan putih menutupi Texas yang hijau. Aku melihat Stacey, dan dia melambai2. Aku senyum dan berteriak "Woohooo! Wooohooo!"
Stacey tiba2 ada didepan mataku. Dia minta aku kasi double thumbs up. Dan dia pun memberi dua thumbs up, agak meluncur kebawah dan aku bisa melihat dia menujuk jam ke arah Adam. Kami terjun bebas mungkin 2-3 menit. Dan tiba2 badanku seperti dikoyak ke atas. Payungnya terbuka.
Aku mulai mengobrol dengan Adam. Dia bilang, dia sudah 12 tahun jadi skydiver. Dan ngga pernah bosan. Dan aku mengerti kenapa dia suka melakukan ini. Memang Texas dari ketinggian awan sangat indah dipandang.
Tiba2 kami agak terguncang-guncang, dan bergerak meluncur dengan arah spiral yang cepat. Aku ketakutan, tapi Adam bilang jangan takut. Ini cuma karena panas dari arah bumi. Memang selalu terjadi pada saat summer. Namanya turbulence. Jangan khawatir.
Mungkin aku berayun-ayun seperti itu selama 5 mnit lebih, aku juga ngga tahu pasti. Lalu pada saat mendarat, aku disuruh menekuk kakiku dan mendarat sempurna. Perlengkapan yang menyatukan kami dilepaskan lalu berfoto bersama. Taklupa kuucapkan terima kasih pada Adam yang telah membawaku dengan selamat kembali ke bumi.
Setelah itu aku, Ionela dan Enrique tertawa2 dan menunggu jadinya video kami. Sebelumnya Stacey nanya, lagu apa yang sering aku dengar. Aku jawab Jazz. Tapi dia langsung ketawa. Dia minta yang ekstrem rock. Aku bilang Foofighter atau Greenday okay lah.
Video Ionela kami tonton bersama. Pas loncat dia teriak. Ekspresinya bagus sekali karna memang dia cantik dan fotogenik. Sedangkan waktu kami menonton videoku, aku malu berat. Karena aku lebih mirip tupai berdada besar jatuh dari langit. Gigiku nongol dan pipiku seperti balon karena aku ngga berhentinya senyum waktu terjun bebas. Aku langsung menghentikan video itu sebelum selesai. Malu berat!
Kami pun kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan pulang ke hotel. Di perjalanan kami tertawa terus karena memang the no returning back point itu luar biasa rasanya. Saat adrenalinmu mengalir deras. Saat tidak ada jalan lain kecuali terjun bebas. Mungkin itu yang dirasakan Adam. Dan aku masih ingin merasakannya kembali...
