Wednesday, July 28, 2010

Be yourself

Dear My Diary,


Soundtrack today:

Satu mimpiku by The Groove

"Kutahu hanyalah dirimu/ Yang mampu begitu/ Melakukan semua inginku"


Few days ago, I had a quite serious talk with my friend. It was about “It’s enjoyable to show your true self in a relationship.”

Awalnya, kita cuma ngobrol2 biasa aja. Tentang kerjaan, tentang makanan, lama2 nyangkut ke love life. Iya, dia baru memulai hubungan dengan pacarnya. Tapi sudah kenal lama. Dan baru kali ini dia bisa ngerasain yang namanya true-self relationship (aku ngarang kata –trueself- ya. Jangan ditiru. )

Well, I also had the same experience when I started the new relationship with Denny. Waktu pertama kali ngejalanin pacaran sama dia, 2 bulan pertama, aku bener2 jaim. Bilang ‘iya’ walopun kadang2 hatiku bilang ‘ngga’. Senyum padahal lagi pengen marah2. Terus maksain melek padahal dah ngantuk banget (tidur itu hobiku banget). Semua itu karena aku belum bisa menata perasaanku dengan baik. Perasaanku masih kacau waktu itu. Antara dia, kuliah, mantan, keluarga, teman, sahabat, dan segala-galanya.

Tapi setelah pertengkaran-nangis-baikan-berantem hebat-maaf2an-baikan lagi, we could show the true self to each other. Mau marah, ya marah aja. Mau ngambek, ngambek aja. Mau peluk, ya peluk aja. Haha, so simple. If I want to fart too, just do it in front of him, and he won’t mind. It’s nice, isnt it? Perasaanku jadi lebih hangat setelah menjadi diri sendiri. He realizes my presence with complex emotions, hehehe...

Sewaktu aku di Belanda mengunjungi dia, aku seneng banget. Karena dia ngga pernah protes kalo aku bangun siang, atau tidur lagi setelah dia berangkat kuliah. Yang pasti adalah sarapan pagi bareng…hehehe. Terus dia juga ngga protes kalo aku stuck at the shopping area for hours karna bingung mau milih yang mana. Dia tetep nganterin sambil ngasi masukan mana yang bagus mana yang ngga.

Pernah sekali kita chatting dan ngobrol lucu2an. Katanya dulu dia memutuskan jadian sama aku karena aku GUYUL (baca: kampungan-jelek- bahasa bali). Ya elaaah. Harga diriku tercoreng moreng. Hahahaha. Tapi sebenernya aku seneng juga. Karna terus terang aja, aku seneng banget dia jadian sama aku sewaktu aku masih jelek (baca: sekarang juga jelek, haha). Dulu aku paling benci dandan. Ngga pernah ngurus diri, pakai lotion aja bisa sekali sebulan. Baju wajib : hitam dan sepatu sneakers. Rambut panjang, hitam, lurus dan kusut. Pokoknya gembel version deh. Tapi anehnya kalo sama dia, the lady inside me is showing up. Aku jadi suka dandan, suka pake dress, atau mini skirt with all the accessories. Kalo sendirian, aku kembali jadi the most rebel style of ninied.

Baju hitam, rambut ikat seenaknya, jeans dan sneakers


Aku sekarang sudah lebih sadar akan perawatan diri. Bahwa menjaga diri, wajah dan tubuh itu penting. Bukan untuk orang lain, tapi untuk diri sendiri. Kayaknya sekarang sudah ngga terlalu guyul. Tapi masih gembel style jadi favorite aku. Untungnya dia juga ngga keberatan aku pakai baju apa. Semua tergantung aku, kalo aku nyaman, yah silahkan aja. Rok mini? No big deal, as long as it is in proper occasion. Well, i dont know which one is my true fashion interest, but ternyata aku orang yang suka berbagai macam fashion.


Alter egoku juga muncul kalo ada dia. Aku yang lebih sering diem, jadi jahil dan cerewet banget nget nget. Padahal biasanya diem aja sambil baca komik. Kalo ngga sama keluarga, aku jarang ngomong. Tapi kalo sudah sama dia, sampe bingung dia gimana cara berhentiin ocehanku.



Senengnya adalah aku bisa menjadi dirku sendiri kalau sama dia. Sepertinya dia juga begitu, I felt he opened himself to me at the time he cried in front of me. The beautiful tears he showed only for me. Padahal dia ngga pernah nangis sesedih apapun dia. Maybe he became too sensitive regarding love and affection. Aku bersyukur karena dia orangnya straight to the point person. Dia akan bilang apa yang dia rasakan. Ngga ada njelimet2nya. Tapi dia selalu mengutarakannya dengan sopan.


Pernah baca di buku mana gitu, kalau merasa ngantuk dan bisa tidur di dekat orang yang kamu suka, itu artinya kamu ngerasa nyaman dan safe banget. Itulah yang aku rasakan sama dia. Dulu setiap ketemu dia, aku ngerasa ngantuk, sekarang setiap ketemu aku, dia jadi ngantuk. Hahaha. Bodoh ya?

peace and serenity, to be beside him (mukaku kayak kodok, XP)

Ya gitu deh.

So kesimpulannya hari ini:

“Hubungan yang nyaman adalah dimana kamu bisa menjadi kamu ; kamu yang sebenarnya.”

LDR (Lovely Distance Relationship)

Dear My Diary,

Kali ini aku pengen banget cerita tentang JARAK CINTA -jarak sejauh apapun akan terasa dekat jika ada cinta -

Why we are apart from each other?
To answer this question, I need to mention from where we are originally from. We are both from Bali, but we live in different regencies. I live in Gianyar, and he domains in Tabanan Regency. From Denpasar it`s about 26 km. From Denpasar to my city it`s about 9 km. So in total 26 9 = 35 km. From my house itself, it takes more than 1 hour if the traffic is light.
2005 - 2007 ; LDR PART 1. GIANYAR - TABANAN
Pada saat itu juga, dia kerja di Nusa Dua, kawasan paling ujung selatan dari pulau bali. Sekitar 30 km dari Denpasar ditempuh sekitar 35-45 menit tergantung traffic. Rumahku ngga setu jalur dengan jalur pulangnya dia. Jadi kalo dia mau ke rumah dan sekalian pulang ke rumahnya di Tabanan, total jarak yang diambil 26 30 2(9) = 74 kilometer.
(dari nusa dua ke rumahku /- 48 km, kalau dia balik lagi ke nusa dua maka jadi 96 km). Dan dia selalu naik motor. YUP! NAIK MOTOR!
ya kira2 begitulah jaraknya

Jarak antara Nusa Dua - rumahku hampir ditempuhnya setiap hari. Katanya sih pengen ketemu. Hanya karena pengen ketemu. Kadang karena ngga tega, mama papa ngasi ijin dia nginep dirumah. Kalau pas ngga ada kamar kosong, dia digelar-in kasur di ruang tamu lengkap dengan TV dan kipas angin (properti ruang tamu sih..hehe)

Itu berlangsung sampai pertengahan tahun 2007, keluarga dia pindah ke kabupaten Badung yang jaraknya lebih dekat. Mungkin hanya 30 menit dari rumahku. Aku bisa lebih gampang ketemu dia. Dia pindah kerja di tempat dekat sana, dan tempat kerjaku hanya 15 menit dari rumahnya. Kalau jadwal kami cocok, kami lunch bareng dirumahnya, with the parents of course.

September - December 2007; LDR PART 2. BALI -JAKARTA

Distance is 977 kilometers or 607 miles or 528 nautical miles


And then suddenly on September 2007, he got the scholarship to study in Netherlands. The initial language preparation was done in Jakarta. He moved there and LDR part 2 has started.
Telpon-telponan setiap malam, berat juga di ongkos ternyata. Tapi as long as our heart still connecting, it`s fine.

October 2007, my mom told me to join one airline`s recruitment. I was hesitated to go. Flight attendant was my dream long time back, but I totally forgot about it. I had a different kind of life achievement at the time, being a teacher.
To fulfill my mom`s desire, I went to the recruitment. I had a really bad feeling about this. Premonition of getting accepted and being far away from home, were clinging on my mind all time. "What if I got accepted? How about my relationship?"

And then my prediction came true, I got accepted. Semalam sebelum recruitment aku nelpon Denny, aku nangis sampe ketiduran karena takut keterima. Dan ternyata benar.

Desember 2007 - April 2008; LDR PART 3; DOHA - JAKARTA.

Distance is 6903 kilometers or 4290 miles or 3727 nautical miles


Teknologi sangat berperan besar pada tahap ini. Karena kalau ngga ada telpon dan internet, kayaknya aku sudah mati deh. Pada saat itu aku belum punya laptop sendiri, jadi setiap weekend aku ke warnet sekitar 10 menit jalan kaki, supaya bisa chatting sama dia di Jakarta.

Dalam 2 bulan, trainingku selesai dan aku sudah mulai terbang. My first solo flight was KL-Bali. Dan untungnya saat itu dia pas ada di Bali. Setelah lama sekali ngga ketemu, kami berpelukan dan semua air mata yang tertahan, jatuh bercucuran. Setelah itu, kami masih sempat bertemu di Jakarta.

April 2008 - May 2009 ; LDR PART 4 ; DOHA - ROTTERDAM.

Distance is 4931 kilometers or 3064 miles or 2663 nautical miles



April 2008, he moved to Holland. Yes! LDR part 4 has started! Tapi asyiknya adalah koneksi internet disana kenceng banget. Jadi YM dan skype adalah saksi perjuangan cinta kami. Walaupun sangat sulit, tapi setiap ada flight ke Eropa, dia akan berusaha datang. Dimulai dengan Frankfurt, Paris, Munich, London, Rome. Aku juga datang ke Rotterdam kalau ada libur atau cuti.

June - July 2009 LDR PART 5. DOHA - GHANA

Distance is 5929 kilometers or 3684 miles or 3201 nautical miles


This was the most though moment of LDR. Dia di afrika booooo!!!
Dia sedang ngerjain fieldwork untuk thesisnya. Dan gile bener, koneksi internet disana luaaaaar biasa hebatnya. Semenit dua menit putus. Itupun susah banget nyambungnya. Sms pun kadang nyampe kadang ngga. Kalo dia nelpon, muahalnyaaaaa minta ampun, 5 menit aja pulsa dah abis. Jaringan telpon juga kurang bagus. Dan dia sangat sibuk. Almost desperate but still surviving.
August - October 2009; LDR PART 6 ; DOHA - ROTTERDAM.
Sekembalinya dari Ghana, maka LDR berjalan normal, but he was busy doing his thesis.

November - December 2009; LDR PART 7 ; DOHA - BALI.

Distance is 7848 kilometers or 4876 miles or 4237 nautical miles


Fase ini kami lebih sering chat via smartphone. Lebih hemat walaupun ngga pernah videocall. Ngga merasa khawatir karena dia bersama keluarganya di Bali.

December 2009 - present ; LDR PART 8 ; DOHA - JAKARTA.
Kembali pada fase ini. Sayangnya fase ini aku ngerasa sangat lonely. Karena dia sudah bekerja tetap, sometimes more than 8 hours per day, dan bener2 DND (do not disturb). Untungnya ada smartphone. Kalau ngga ada, mungkin aku sudah koit sekarang.

Hehe, jadi inilah fase LDR kami.
Now I absolutely know why we are apart. Supaya kami lebih kuat secara lahir batin. Mungkin Tuhan membiarkan kami menyebar di tempat yang jauh supaya kami lebih siap menghadapi semua. Bahwa jarak dan waktu bisa diatasi walaupun dengan air mata.

Aku tau masih ada fase-fase selanjutnya, tapi kami akan bermetamorfosa seiring berjalannya waktu.

~Tetap semangat ya, walaupun LDR!!!~

HATE/LOVE

What makes you love someone?

Why you love someone?

What the hell did you do when you`re in love with someone?

Jangan coba jawab pertanyaan itu deh...

Karena aku maupun dia juga ngga bisa ngejawabnya.
Haha, bener.

I really dont know why I love him. Bukannya aku ngga tau, tapi aku ngga bisa mendeskripsikannya secara gamblang. Mungkin karena awalnya aku benci dia bukan maen.

hate to love...it does happen!



Suatu hari di bulan Juli 2002, lokasi bukit Jimbaran Bali, aku lagi digojlok dalam masa orientasi mahasiswa baru. Kakak kelas mendominasi adik kelas dan semuanya rata-rata pasang tampang galak. Semuanya pasang tampang sangar. Nah, saat itu ada pertemuan dengan himpunan mahasiswa jurusan. Aku liat dia untuk pertama kalinya. Dari pertama liat, aku sudah suka. Tapi sayangnya rasa suka itu ngga berlangsung lama, yang ada jadi SEBAL luar biasa.

Kebetulan orangtuaku keduanya arsitek, dan ternyata masuk dunia yang sama dengan ortu itu bukan hal yang mudah. Dari diledek tugasnya dibuatin ortu, ortu dikira dosen dan semuanya jadi manggut-manggut aja kalo aku ngomong. DAN sialnya lagi, si kakak kelas bernama Denny ini adalah orang yang paling jahil diantara biangnya jahil.

Banyak kali kejahilannya yang ngga masuk akal.
  • Mau maen ke rumah minjem buku (kalo mau minjem buku ke perpus aja napa? langsung aku tolak karna rumah jauh).
  • Bilang ada perlu masalah HMJ, ngasi nomer telpon, tapi pas dihubungi ngga bisa (katanya nomer hapenya ada tiga, ngga ngerti apa maksudnya, apa cewe-nya 3 juga?)
  • Gunting rambutku pas kegiatan ultah fakultas (apa coba maksudnya)
  • Ngeledek setiap ketemu "EEEEH yang bapaknya arsitek itu ya?" (Boleh kok yang diinget itu diriku aja, emangnya kamu temennya papaku ya?)
  • dan sebagainya dan sebagainya
Yah pokoknya aku sebel banget. Pas aku liat dia pake strap handphone yang sama, tuh strap langsung aku buang jauh2, saking sebalnya.

Setelah itu dia menghilang dari kehidupanku (damai).


Setelah beberapa tahun berlalu, tepatnya tengah tahun 2005, karena ada tawaran beasiswa ke Jepang, aku kembali dekat berkomunikasi dengan mahluk jahil itu. Tak disangka tak dinyana dia adalah penerima beasiswa tahun sebelumnya. Pantesan dia ngilang.
Mau ngga mau harus deket sama dia. Tapi ternyata dia ngga se-gendeng yang kubayangkan selama ini. Dia dengerin curhatku tentang sekolah dan tentang impian-impianku yang tersendat. Dan ternyata dialah yang membuka jalanku untuk mencapai impian-impianku.

Akhirnya aku berangkat ke Jepang (salah satu impianku tercapai...)

Sepulangnya aku dari Jepang, eh dia sudah deket sama keluarga aku, dan mamapapaku sangat suka dia. Hebatnya lagi, hubungan mereka sudah seperti orangtua dan anak. Mereka berdiskusi masalah pekerjaan dan masa depan, dan topik paling hot saat itu : AKU!

Setelah beberapa minggu pdkt, akhirnya jadian. Aku belum yakin sama perasaanku saat itu. Tapi aku yakin dia adalah orang yang paling berharga dan aku ngga mau kehilangan dia. Lama-lama jadi sayang and cinta deh.

Hehehe...

Tapi sampe sekarang aku ngga tau kenapa aku bisa cinta sama dia...:P

Kesimpulan:
Jangan benci seseorang sampe segitunya, yang ada malah jatuh cinta!

Why Sunflower and the sun

Dear My Diary,

sebenernya aku bingung banget mau ngasih nama blog ini apaan. Tapi setelah diputuskan dengan cemerlang, akhirnya aku kasi nama sunflowerandthesun.

You know why?

Becoz,
actually our name are having those words. Somewhere in my name, suryakusuma : sunflower, bunga matahari, himawari (adiknya shin-chan kalee)

do i look like this?


And his name, Surya, means the Sun, matahari, taiyou. Not only literally, but he also has the energy of the sun. Energy Never Dies!!! (kecuali kalo habis makan kekenyangan..hehe)

he is the sun, full of energy

So, that`s why i named this blog sunflowerandthesun.

And there is another meaning...
Sunflowers in the bud stage exhibit heliotropism. At sunrise, the faces of most sunflowers are turned towards the east. Over the course of the day, they follow the sun from east to west, while at night they return to an eastward orientation. This motion is performed by motor cells in the pulvinus, a flexible segment of the stem just below the bud. As the bud stage ends, the stem stiffens and the blooming stage is reached. (sumber wikipedia)

Mungkin semua sudah tau kalau bunga matahari itu kembangnya ngikutin matahari. Dan begitu pula dengan aku. Entah kenapa, tanpa sadar, aku hidup mengikuti dia. Walaupun jarak dan waktu kami terpisah jauh bagaikan bunga dan matahari, tapi aku selalu berpikir, bergerak, dan berbicara dengan dia sebagai center pointnya.

Kesannya egois?
Justru sama sekali ngga. Dengan berbicara dengan dia, aku ngerasa wawasan jadi tambah luas, dan kecintaanku terhadap keluarga jadi bertambah.

Thanks GOD I have him by my side, even though our distance is unbearable.

Wednesday, July 21, 2010

When we walk the same path again...

21 Maret 2010,Sunday

soundtrack : GReeeN - Kiseki
Hibi no naka de chiisana shiawase
Mitsuke kasane yukkuri aruita kiseki
Bokura no deai wa ookina sekai de
Chiisana dekigoto meguriaeta
Sore tte kiseki
"We found a little happiness each day, in the path that we walk slowly. Our meeting maybe only a small thing in this big world, but the fact that we met is a miracle."

I spend the day in Munich yesterday. Munich, a Bavarian city known the best for the soccer team Bayern Munchen, Neuchwansteinn schloss, and the beer (for sure!!). That was another job to do, so I had to go around with my colleagues, and I enjoyed the companion. Munich adalah kota yang spesial banget buat aku. Kenapa? Karena kota ini pernah kulalui bersama dengan Denny.
Walaupun cuma `pernah`, tapi rasanya bahagia banget. Aku ngga pernah nyangka dalam hidupku aku bisa ketemu sama pacarku di suatu kota di luar negeri. Ngga pernah kebayang. But it happened. So many times.

Di Munich ini aku belajar banyak tentang teamwork dan pengorbanan, tentunya bersama dia.
Belajar memutuskan sesuatu, contohnya; mau pergi kemana, what to eat, where to eat, how much time we should spend in one place, my interest, his interest, masalah narsisme, dan masalah mengendalikan emosi PMS. Seems really hard, isn`t it?

10 April 2009Munich - Germany
Okay, perjalanan dia kali ini ngga gampang, kali ini dia harus melewati rintangan bernama WAKTU yang ngga ada cocok2nya. Arrival time aku dan jadwal arrival train dia ngga memungkinkan untuk dia dateng pada hari- H saja. So dia harus menginap di hostel untuk semalam.

Esok paginya, aku tiba di Munich dan sampai penginapan pagi hari. Tempat dia menginap ada kurang lebih 15 menit by tram dari hotelku. Karena kesalahan skala peta, maka dia berjalan kaki dari hostel sampai Englishgarten dan kami berjumpa disana.

Dari Englishgarten ke hotelku 5 menit jalan kaki, jadi kami taruh barang disana (GILA, BACKPACK DIA BERATNYA 20 KG LEBIH, KAYAKNYA DIA BAWA BERAS!!!), lalu kami menuju city center dengan tram.
encok habis bawa karung beras

Problem 1 :
makan apa / di mana?
Ini kayaknya problem yang simple, tapi membunuh!
Terjadi ngga di Bali, di Jakarta, sampe di Munich juga. Come on, you`re kidding me. Momen spesial kayak gini selalu dikacaukan masalah perut! Setelah pusing mikirin makanan, akhirnya kita mutusin makan all you can eat 5.50 Euro (restoran Cina). Kenapa? Karena bisa makan dan nambah sepuasnya.

aku ditraktir tiramisu....suka suka suka

Problem 2 :
Pergi ke mana?
"Sekarang kita ke mana?"
Nah, jawabnya sih gampang, but because I`ve been there before, sedangkan dia belum pernah kesana, dia mempercayakan instingku untuk menuju tempat tujuan. Dan hasilnya : NYASAR!
Dia ngga marah sih, tapi waktu kita yang sempit makin sempit aja jadinya.

Problem 3 :
"Baju itemnya bikin panas..." atau " Ribet amat nih pake cardigan pas summer, lepas ngga ya?"
Percaya atau ngga, kostum yang kita pakai juga menentukan suasana hati. Wear proper cloth for your journey.

Problem 4 :
"Kok motonya gitu sih, sudah susah2 gaya, kok yang dipoto malah gedungnya. Anglenya ngga bagus tuh!"
Nyebelin! Sudah susah2 dipotoin, eh malah ngomel2. Kan aku bukan potograper propesional nong! hahaha. Tapi seru juga berantem gara2 poto.
anglenya katanya kurang mantap

Problem 5 :
"O-oh..kayaknya aku dapet deh..ayo balik." (padahal belum semua lokasi kesampean)
Sebenernya dia ngga kenapa napa. Tapi aku-nya yang jadi sensi setengah mati. Semua rencana mau kesini kesana jadi gagal karena sakit perut. Perfect! :( Karena baru abis tugas terbamg juga mungkin jadi capek banget.
tiba2 capek dan ngantuk

Tapi...
dengan dilaluinya hari itu setahun yang lalu, hari ini aku senyum-senyum sendiri di Munich. Walaupun sebenernya aku cuma nganterin temen2 yang belum pernah kesana, tapi aku jadi hapal jalan disana karena semua hal yang kulalui bersama Denny sangat membekas di ingatan. Tempat kita makan, stasiun tempat kita stop, dan yang terpenting, THE FACT THAT WE MET THERE WAS THE TRUE MIRACLE.

di marienplatz