Thursday, September 9, 2010

Skydive_first time



September 9 , 2010

Soundtrack today : Attack It _ ARASHI

We’re gonna jump Towa ni sakuhazu
Kokoro namidatsu Mazariau music
I’m gonna goal Tsukisusumu course
Kawaranai soul Tomaranai music

We’re gonna jump, Surely going to blossom for eternity
The rippling waves of the heart blends together the music
I’m gonna goal! Pushing through the course
Unchanging soul Unstopping music



Halo halo halo again. I am really in the mood of writing! Haha... full energy. Jadi ini ceritanya di bulan juli 2010, tepatnya tanggal 23 juli 2010. Aku sedang tugas ke Houston Texas. Kebetulan di pesawat, ada flatmate temanku dari Romania. Tiba2 dia ngajakin untuk skydiving. Dia bilang ada crew Romania satu lagi (Ionela) akan pergi sama copilotnya (Enrique). Kenapa kita ngga ikut aja.

Dalam bayanganku, skydiving ya? Hmm, idolaku, Arashi, juga pernah melakukan skydiving. Ohno kun, Matsujun dan Sho kun. Aku takjub sama mereka, terutama Sakurai Sho yang takut ketinggian, bisa lompat dari pesawat dan skydiving. Bagiku aku ingin seperti mereka.

Ninied : "Okay. I'll join." dengan nada datar dan tanpa takut.

Sid : "Sure, ya?! Don't change your mind!" Ninied : "I won't!"

Sesampainya di Houston, ternyata ada berita bahwa tropical storm Bonnie datang mendekat ke arah Houston. Aku yang mendengar berita itu, sedih sekaligus hepi karna ada kemungkinan untuk ngga jadi skydiving.

Ionela : "Putu, I am afraid we cant do it. But I will inform you as soon as I contacted them. I hope we still can do it."

Ninied : "Yeah" Ooow. Antara seneng dan sedih bo.

Keesokan paginya aku bangun pagi dan sarapan. Jam 8 pagi, Ionela menelepon dan bilang kalau dia sudah mengontak tempat dia booking skydivingnya, dan harus berangkat pagi2 karna dia janji jam 10. Dan karna itu badai datang mendekat, kita harus secepatnya lompat dari pesawat. Janji kumpul jam 9.

Yang aku bingung adalah:
1. Aku ngga bawa baju petualang. Karena aku ngga prepare buat sporty apalagi extreme activity, aku ngga bawa baju yang sesuai untuk kegiatan ini. Bajuku semua dress summer dan ada blus bunga2 dan rompi biru. Aku bawa jeans dan sneakers, tapi atasannya ngga banget. Terpaksa aku mix and match semua. walopun hasilnya norak.

2. Ngga prepare duit buat extreme sport. Kata Ionela, biayanya sekitar 300USD belum termasuk ongkos nyewa mobil. Jadi aku lari ke mall underground dan narik duit di atm.

Jam 9 kami kumpul di lobby. Enrique sudah dibawah. Sesaat kemudian Ionela datang. Lho Sid mana? Ionela bilang, dia ngga jadi ikut karena ada janji sama temennya di siang itu. Dia malah minta kita mengulur waktu, yang tentunya ditolak mentah2 sama Ionela.

Ionela : "She wants us to postphone the time until she came back. I told her that we cant. The storm is coming and I already booked this since long time. Why we should follow her? It's fine if she's upset!"

Aku jadi merasa ngga enak. Masalahnya yang ngajak aku adalah Sid.

Lalu kami pergi ke hotel Hilton naik shuttle, ke tempat rent car. Dan ternyata ...

Enrique : "Putu, you have driving license?"

Ninied : "Yes, I have. Why?"

Enrique : " I forgot to bring it. Can we use yours?"

Alamakjang. SIMku itu pun cuma sim indonesia yang baru aja diperpanjang 2 minggu sebelumnya. Ionela malah ngga punya sama sekali. Aku mikir bisa ngga ini sim indonesia dipake di negeri orang, Amerika lagi!

Aku serahkan SIMku ke mbak Alison, penjaga stand rent carnya. Dia ngeliatin aja. "Are you going to drive?" Aku jawab "Yes."
"So it has to be you who drives the car. We are not responsible for any accident by third party."

Huwaaaa... Di Bali aja aku nyetir masih suka mogok. Gimana ya kalo di US?

Tanda tangan ini itu, passport dll, lalu kami diantar ke depan, dan mobilnya dateng. Toyota Prius, mobil hybrid yang sangat modern. Aku test drive dulu dong (gaya amat). Nyetir keliling area drop offnya hotel hilton. Pusing bo. Aku biasa setir kanan, ini setir kiri. Aku biasa mobil manual, ini automatis. Aku biasa ngutakngatik audio di dashoboard, eh ini di setirnya sudah ada remotenya. Setelah menghilang dari penglihatan mbak Alison. Maka Enrique lah yang mengambil alih setir. Fiuuh!

toyota prius

Perjalanan ke tempat skydiving lumayan jauh. Kami melalui jalan besar selama 1 jam lebih. Nama jalannya juga aneh. Farmer market street (kayak maen farmville). Sepanjang perjalanan kulihat hamparan padang rumput luas dan ranch dengan isinya, kuda, sapi dan domba.

Setelah 1 jam berlalu, kami sampai pukul 11:10 di Skydive Houston. Cukup rame juga. Ada anak-anak, remaja, orang dewasa, laki dan perempuan. Kami diberikan formulir pendaftaran, dan mengisi formulir itu, yang intinya bahwa kami siap dengan apapun yang terjadi, dan mereka tidak bertanggung jawab atas kecelakaan apapun yang mungkin terjadi.

Aku mengisi dengan pasrah. Aku ngga bilang ke mama, papa, adik-adik. Aku ngga bilang ke Denny. Aku ngga bilang ke siapa2. Yang tau cuma aku, Enrique, Ionela aja. Sid mungkin ngga tau kalo aku jadi ikutan. Terus sampailah di kolom orang yang dihubungi kalo terjadi apa2. Kuisi aja dengan nama Denny. Hahaha...
Aku memilih untuk terjun dan divideokan. Biayanya USD278. Kata Ionela, dengan video, ini sudah murah dibandingkan tempat lain.

Kami menunggu kurang lebih 1,5 jam untuk giliran kami. Selama menunggu kami diberi instruksi dan dipertontonkan video. Ada yang bilang, "kamu ngga bisa percaya siapapun kalo sudah di langit. Kamu cuma harus percaya instruktur yang akan menghabiskan 20 menit bersamamu di angkasa!"

Lalu aku mengalami gangguan jiwa untuk orang yang mau terjun bebas dari ketinggian 12000 kaki. Ngga ada histeria, ngga ada ketakutan. Aku cuma senyam senyum aja. Tanganku ngga dingin, perutku ngga mual. Aku cuma mikir, apapun yang terjadi, terjadilah.

Stacey, skydiver yang bertugas mengambil videoku, merekam videoku di darat. Disuruh bergaya pemberani. Tapi aku ngomong kacau balau.

Stacey: "So Putu! How's you're feeling?"

Ninied: "I am fine. Just blank."


Stacey : "Any words you wanna say?"

Ninied : " I am sorry I dont tell anyone about this..."

Stacey pun siap2.

Nah, 15 menit sebelum berangkat, kami di pakaikan perlengkapan yang nanti disambung ke badan instruktur. Mereka ngga memberi kami jumpsuit, karena jumpsuit itu berat, dan ini sedang summer. MAlah nanti keringetan.

Dan kami meluncur ke runway. Pesawat fokker pun merapat, dan kami membentuk barisan. Enrique masuk pertama, Ionela kedua, aku ketiga, dan sekelompok student dari skydive itu sendiri.

Hmm. Brmmm brmmm...
Pesawat take off dan mulai climbing. Mr Adam instrukturku yang akan kupercayakan hidupku padanya, mulai menyatukan perlengkapan kami. Dia memastikan semuanya bener2 safe. Pesawat ini pintunya terbuka. Terasa banget perubahan udara pas climbing. Pas 7000 ft, Stacey mulai bertanya2.

Stacey :" How do you feel?"

Ninied: "I am so excited" ya elah ini pendek2 banget jawabnya. Ngga cocok jadi penyiar TV.

Stacey : "We are halfway there. another 5000ft to go."

Ninied : "HAAAH??? Halfway??" aku liat dari jendela ini pesawat udah tinggi banget. Dan hawanya sudah dingin. Lalu kami masuk ke area awan dan dingin semakin terasa dan pesawat agak berguncang.

Stacey : "OK. Last words?" Ninied: "Mom, I am sorry I didn't tell you that I'm doing this." Sambil kasi jempol.

Lalu stacey pake helm yang ada kamera diatasnya. Sedangkan aku ditanya2 Adam, apakah aku baik2 saja.

Akhirnya pada 12000 feet, pesawat mulai tenang bunyi mesinnya. 3 orang student dan instrukturnya siap2 dan langsung terjun, menghilang dari pesawat. Tibalah giliranku. Aku bener2 blank.

Stacey sampai di mulut pintu, memberi tanda jempol dan langsung terhisap oleh angkasa. Dan aku yang terikat dengan Adam pun sampai juga di mulut pintu. This the point of no returning! I crossed my arm around my body and suddenly I was sucked into the air.

Uwaaaaaa~~

Rasanya bener2 kayak jatuh dari tempat tidur. Angin menusuk wajah dan badanku. Dan rasanya kayak naik jetcoster, jetcoster turn dari puncak tertinggi! Perutku rasanya naik semua ke atas. Pas lompat aku menutup mataku, dan 3 detik kemudian yang kulihat adalah awan putih menutupi Texas yang hijau. Aku melihat Stacey, dan dia melambai2. Aku senyum dan berteriak "Woohooo! Wooohooo!"



Stacey tiba2 ada didepan mataku. Dia minta aku kasi double thumbs up. Dan dia pun memberi dua thumbs up, agak meluncur kebawah dan aku bisa melihat dia menujuk jam ke arah Adam. Kami terjun bebas mungkin 2-3 menit. Dan tiba2 badanku seperti dikoyak ke atas. Payungnya terbuka.
Aku terayun-ayun sekarang. Aku dan Adam masuk ke awan. Ternyata awan itu seperti kabut. Lembab dan dingin. Setelah melewati awan aku melihat hijaunya Texas, wah indah sekali.


Aku mulai mengobrol dengan Adam. Dia bilang, dia sudah 12 tahun jadi skydiver. Dan ngga pernah bosan. Dan aku mengerti kenapa dia suka melakukan ini. Memang Texas dari ketinggian awan sangat indah dipandang.

Tiba2 kami agak terguncang-guncang, dan bergerak meluncur dengan arah spiral yang cepat. Aku ketakutan, tapi Adam bilang jangan takut. Ini cuma karena panas dari arah bumi. Memang selalu terjadi pada saat summer. Namanya turbulence. Jangan khawatir.

Mungkin aku berayun-ayun seperti itu selama 5 mnit lebih, aku juga ngga tahu pasti. Lalu pada saat mendarat, aku disuruh menekuk kakiku dan mendarat sempurna. Perlengkapan yang menyatukan kami dilepaskan lalu berfoto bersama. Taklupa kuucapkan terima kasih pada Adam yang telah membawaku dengan selamat kembali ke bumi.

Setelah itu aku, Ionela dan Enrique tertawa2 dan menunggu jadinya video kami. Sebelumnya Stacey nanya, lagu apa yang sering aku dengar. Aku jawab Jazz. Tapi dia langsung ketawa. Dia minta yang ekstrem rock. Aku bilang Foofighter atau Greenday okay lah.

Video Ionela kami tonton bersama. Pas loncat dia teriak. Ekspresinya bagus sekali karna memang dia cantik dan fotogenik. Sedangkan waktu kami menonton videoku, aku malu berat. Karena aku lebih mirip tupai berdada besar jatuh dari langit. Gigiku nongol dan pipiku seperti balon karena aku ngga berhentinya senyum waktu terjun bebas. Aku langsung menghentikan video itu sebelum selesai. Malu berat!

Kami pun kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan pulang ke hotel. Di perjalanan kami tertawa terus karena memang the no returning back point itu luar biasa rasanya. Saat adrenalinmu mengalir deras. Saat tidak ada jalan lain kecuali terjun bebas. Mungkin itu yang dirasakan Adam. Dan aku masih ingin merasakannya kembali...



Takut:_ tak ingin kutemui

09 September 2010

Soundtrack today : 1999*4##11
tabun sou nanda kitto sou nanda
Maybe it?s really like that, it?s definitely like that

atarimae ni sonzai suru mono nanda
It?s existence is way beyond doubt after all

dakara boku wa sore wo ?tokubetsu? ni shitanda
That?s why I made it into a code which says ?special?

kossori dare ni mo barenai you ni?
Just so that no one would find out about it?

soushitara jibun dake no imi wo kangaedasu darou na
And if you do, I guess you?d be thinking of the meaning only known to yourself


Waaah, sudah lama sekali ngga nulis blog. Terakhir bulan Juni ya? Yah so many things have happened. I lost my mood to write. Hik...hik... Banyak hal terjadi dan ngga semuanya mampu diceritakan. Tapi demi mengobati kerinduan akan menulis dan mengobati kerinduan penggemar (bletak! kok ada sandal terbang kesini??), maka saya menulis kembali. Fufufufu....

Begini ceritanya. Jadi setelah keluarga kami berembug, maka diputuskan bahwa pernikahan akan dilaksanakan Januari 2011. Jadi maju dari rencana awal yang ngasal aja ngambil tanggal 20112011 yang ternyata... mana tahaaaaaan bo! Hahaha. Habisnya kelamaan sih.

Tapi dengan keadaan kami yang berjauhan, aku masih di Qatar, dia di Jakarta, nikahan kami nanti di Bali, kok rasanya susah betul ya. Menyatukan pikiran kami masih terasa gampang, tapi menyatukan pendapat dan usulan semua pihak yang kami sayangi itu yang sulit. Banyak hal yang ngga mungkin bisa dilaksanakan. Mungkin inilah saatnya menjadi orang dewasa yang sebenernya: berani menentukan pilihan.


Jakarta, 20 Agustus 2010
Sore hari, jam 5 lebih, aku baru sampai di Cengkareng. Delayed arrival dan bis jemputan yang telat dateng bikin rencanaku berantakan. Padahal aku sudah punya rencana mau buka puasa bersama di rumah temennya Denny di Jakarta. Udah bawa oleh-oleh kurma dan baklava segala. Huhuhu. Karena telat dateng ini juga, rencana jadi berubah. Denny dateng ke hotel dan kita cerita2 sampe pagi.


Keesokan harinya, kami ke Thamrin City alias Pasar Tasik untuk lihat2 kain. Wah, rame banget ya. Aku belum pernah ke pasar yang mayoritas isinya baju muslim, mukenah dan batik. Denny yang biasanya paling benci tempat rame pun akhirnya jadi tentara gerilyawan bagian tawar menawar. Amboi! Dia hebat sekali! Nawar sampai dagangnya mencak-mencak pake bahasa Jawa (mbak, inget mbak ini bulan puasa)..

Lalu setelah makan siang (yang hebatnya 1 porsi cuma 8000 rupiah! Memang top banget Indonesia ini), kami lanjut ke Grand Indonesia. Memang hebat ya orang indonesia, punya mall super branded kayak gini, punya pasar tradisional yang super modern, punya daerah kumuh, punya daerah terpencil, semuanya ada. Disana kami searching bridal dan everything about wedding. Lalu ketemulah bridal yang gaunnya didatangkan dari Perancis. Aku lupa nama bridalnya apa, tapi pas masuk dan nanya harganya, aku langsung kehilangan mood karna 1 bajunya minimal 20 juta. Maaaaak!

Nah beberapa meter dari bridal ini, ada Rumah Penganten by Anne Avantie. Mungkin temen2 nganggep ini norak banget, tapi aku adalah penggemar berat karya-karya Anne Avantie. Kebayanya keren-keren banget dan memang eksklusif. Dan harganya juga yang selangit. Nah sesampainya di depan etalase, beliau ada! Sedang berbicara dengan 3 orang perempuan, ditemani dengan asistennya.

Jantungku berdegup kencang tiba2! Kencang banget sampe aku bisa denger sendiri detak jantungku berderap seperti tentara gerak jalan di upacara 17 agustusan. Denny langsung ngajak masuk ke sana.

Denny : "Ayo yang. Kita masuk."

Aku sudah kaku. Badanku menolak untuk masuk. Tanganku dingin. Basah dan lembab karena keringat dingin. Bulu kudukku berdiri. Kakiku kaku.

Ninied : "Nggak ah!"

Denny : "Lho?"

Ninied : " Ada yang! Itu ada orangnya. Itu yang pake konde pake syal itu. Ngga yang. Ngga mau masuk. Ntar nid harus bilang apa? Mana pake baju kaya gini lagi. Ngga yang. Ngga usah!"

NOTE:
kehilangan ke-pede-an karna baju adalah sesuatu yang salah. Bajuku waktu itu adalah: atasan coklat beli di Bali seharga 40ribu, celana jeans abu2 terang yang sudah sangat belel, tas etnik seharga 80rb dong made in vietnam, sepatu sandal charles and keith diskon 30%. apa yang salah coba? harusnya aku pede dong. tapi kok tiba2 aku malu karna penampilan gembelku.

Aku menolak dengan segenap jiwa. Aku menolak seperti kucing yang menolak untuk diajak mandi. Biarpun bagus untuk diri sendiri, tapi aku bener2 ketakutan kayak mau ketemu presiden.

Denny : "Ayang kok tumben kayak gini? Skydiving aja ayang ngga takut. Kok mau ketemu Anne Avantie aja takut?"

*fyi: Aku memang skydiving (terjun payung) di Houston, Texas pada akhir Juli lalu. Itu hal tergila yang pernah aku lakukan tanpa ijin. Lompat dari 12000 kaki, dan membiarkan diri dengan santai terbawa angin, dan ngga bilang2 dulu sama siapapun termasuk Denny! Rasanya: kayak jatuh dari tempat tidur!

Ninied : "Kalo ayang suruh nid terjun lagi, nid ngga bakal nolak yang. Tapi kalo ketemu desainer ini langsung... NGGA MAU!"

Denny : "Kenapa sih? Kan cuma nanya-nanya. Ayo!" Denny langsung menarik tanganku dan aku terseret2.

Ninied : "NGGA MAUUUU!!!" Sambil menahan badan biar ngga terseret. Tiba2 nafasku langsung cepat. Oh no! I got hyperventilation because of Anne Avantie. Sesak napas!!!

Denny : " Kok tangan ayang dingin gini?"

Ninied : "NGGA MAUUUU!!!!"

Denny akhirnya nyerah.

Ninied : "Pokoknya ngga mau yang. Mendingan nid terjun payung! Takut nok!" Aku melihat 2 bangku di seberang. "Ninied mau duduk aja. Tunggu dulu. Give me sometime to think..."

Denny mengiyakan. Tapi dia heran. Super heran. Aku yang dia kenal ngga takut apapun, kecuali kupu2 dan kecoak, bisa2nya takut ketemu Anne Avantie. Ninied yang ketemu ngga takut ketemu arsitek ternama dunia Tadao Ando, bisa takut ketemu Anne Avantie. Ninied yang dengan beraninya ngelewatin rumah hantu di Madam Tussaud Amsterdam, bisa takut ketemu Anne Avantie. Ninied yang udah terjun payung tanpa seijinnya di Texas, bisa takut ketemu Anne Avantie.

Dia cuma memegangi tanganku yang dingin. "Sampe dingin gini! Ayang? Kok bisa sih? Hahaha!"

Kalo aku lebih milih disuntik 15kali berturut2 dah!

Dari tempat kududuk, kulihat beliau lagi berbicara dengan 3 perempuan itu. Ngga berapa lama, mereka pergi dan beliau masuk ke kantornya yang tertutup dari luar. Aku mulai sadar dari histeria. Glukosa mulai mengisi darahku. Dan aku mulai bisa merasakan kakiku lagi.

Aku langsung berdiri. "Yuk yang. Masuk. Kita nanya2."

Denny tambah heran. "Udah baikan?"

"Yuk. Sebelum nid berubah pikiran..."

Akhirnya kami masuk dan melihat2 koleksinya. Memang karyanya itu sangat sangat sangat super duper indah. Rasanya ada di alam lain yang bener2 indah melihat koleksinya. Gemerlap. Gemilang. Eksotik. Sempurna.

Mbak penjaga toko memberi salam.

"Selamat siang kak."

Ninied : "Selamat siang"

Mbak : "Mau cari kebaya buat nikahan ya kak?"

Ninied : "Iya. Mbak, saya ini penggemar berat BELIAU. MAkanya begitu liat kebayanya saya langsung sesek napas. Gila, bagus banget ya."

Mbak :" Bunda ada lho di dalam. Tadi baru aja fitting."

Iya, makanya nunggu sampe orang2 itu pergi dan si bunda masuk kedalem.

Ninied " Iya. Saya tadi lihat. Saya lihat2 dulu ya mba."

Aku melihat sekeliling. Denny sudah sibuk ngeliat sana sini. Dia heboh sendiri. Aku tertegun sama satu kebaya yang ada buntutnya dan ada obinya. Modelnya jadi kayak kebaya Bali pake senteng (sabuk).

Ninied : "Mbak. Kalo harganya berapa ya mbak?

Mbak :" Kalo yang pendek itu 20juta kak. Yang panjang itu 60juta. Itu ready stock ya. Kalau bikin, tergantung negonya aja sama bunda. Mungkin bisa dapet 45 juta."

Glek!
Aku nawar tahu di pasar aja bisa grogi setengah mampus, dan pasti ngga jadi nawar. Apalagi nawar kebaya. Jangan2 malah harganya jadi naik.

Tapi mahal juga ya buat kebaya bagus. Memang kualitasnya sebanding sama harganya. Takjub. Tapi kalau harga kebaya yang akan dipakai buat sehari aja harganya segitu, mending aku beli sapi 2 ekor, terus beranak, terus dijual, terus beranak lagi dijual lagi. Kalo hasil penjualan sapi dah sampe 60 juta. Baru aku beli kebaya 60juta. Kalo si sapi sudah tua, dia akan kurawat sampai nafasnya yang terakhir. Terima kasih sapi. Takkan kulupakan jasamu.

Denny pun takjub dengan kebaya yang ada disana. Dia bilang kebayanya memang bagus. Ngga salah harganya mahal. Dia sebenernya ngga keberatan dan ingin sekali aku memakai kebaya itu. Tapi aku tak sanggup.

Setelah puas memandangi dan berkhayal mengenakan kebaya itu, kami keluar dari tempat itu dengan gembira. Aku pun cukup puas dengan hanya memandangnya. Dan kami pun menemukan satu tempat lain yaitu BRUTUS tempat buat jas untuk pria.

...

Sekarang giliran Denny yang menolak diajak masuk.

CASE CLOSED. Kesimpulannya: kami memang ngga bisa ketemu desainer baju.

Monday, August 16, 2010

Blank

Hei

Bener2 hiatus ya ini blog. Aku belum sempat berpikir tentang apapun sekarang. Semuanya lagi blank. Dan bener2 menikmati hari2 cuti dirumah..hehehe...

akan segera mengupdate kalo sudah ada waktu

Wednesday, July 28, 2010

Be yourself

Dear My Diary,


Soundtrack today:

Satu mimpiku by The Groove

"Kutahu hanyalah dirimu/ Yang mampu begitu/ Melakukan semua inginku"


Few days ago, I had a quite serious talk with my friend. It was about “It’s enjoyable to show your true self in a relationship.”

Awalnya, kita cuma ngobrol2 biasa aja. Tentang kerjaan, tentang makanan, lama2 nyangkut ke love life. Iya, dia baru memulai hubungan dengan pacarnya. Tapi sudah kenal lama. Dan baru kali ini dia bisa ngerasain yang namanya true-self relationship (aku ngarang kata –trueself- ya. Jangan ditiru. )

Well, I also had the same experience when I started the new relationship with Denny. Waktu pertama kali ngejalanin pacaran sama dia, 2 bulan pertama, aku bener2 jaim. Bilang ‘iya’ walopun kadang2 hatiku bilang ‘ngga’. Senyum padahal lagi pengen marah2. Terus maksain melek padahal dah ngantuk banget (tidur itu hobiku banget). Semua itu karena aku belum bisa menata perasaanku dengan baik. Perasaanku masih kacau waktu itu. Antara dia, kuliah, mantan, keluarga, teman, sahabat, dan segala-galanya.

Tapi setelah pertengkaran-nangis-baikan-berantem hebat-maaf2an-baikan lagi, we could show the true self to each other. Mau marah, ya marah aja. Mau ngambek, ngambek aja. Mau peluk, ya peluk aja. Haha, so simple. If I want to fart too, just do it in front of him, and he won’t mind. It’s nice, isnt it? Perasaanku jadi lebih hangat setelah menjadi diri sendiri. He realizes my presence with complex emotions, hehehe...

Sewaktu aku di Belanda mengunjungi dia, aku seneng banget. Karena dia ngga pernah protes kalo aku bangun siang, atau tidur lagi setelah dia berangkat kuliah. Yang pasti adalah sarapan pagi bareng…hehehe. Terus dia juga ngga protes kalo aku stuck at the shopping area for hours karna bingung mau milih yang mana. Dia tetep nganterin sambil ngasi masukan mana yang bagus mana yang ngga.

Pernah sekali kita chatting dan ngobrol lucu2an. Katanya dulu dia memutuskan jadian sama aku karena aku GUYUL (baca: kampungan-jelek- bahasa bali). Ya elaaah. Harga diriku tercoreng moreng. Hahahaha. Tapi sebenernya aku seneng juga. Karna terus terang aja, aku seneng banget dia jadian sama aku sewaktu aku masih jelek (baca: sekarang juga jelek, haha). Dulu aku paling benci dandan. Ngga pernah ngurus diri, pakai lotion aja bisa sekali sebulan. Baju wajib : hitam dan sepatu sneakers. Rambut panjang, hitam, lurus dan kusut. Pokoknya gembel version deh. Tapi anehnya kalo sama dia, the lady inside me is showing up. Aku jadi suka dandan, suka pake dress, atau mini skirt with all the accessories. Kalo sendirian, aku kembali jadi the most rebel style of ninied.

Baju hitam, rambut ikat seenaknya, jeans dan sneakers


Aku sekarang sudah lebih sadar akan perawatan diri. Bahwa menjaga diri, wajah dan tubuh itu penting. Bukan untuk orang lain, tapi untuk diri sendiri. Kayaknya sekarang sudah ngga terlalu guyul. Tapi masih gembel style jadi favorite aku. Untungnya dia juga ngga keberatan aku pakai baju apa. Semua tergantung aku, kalo aku nyaman, yah silahkan aja. Rok mini? No big deal, as long as it is in proper occasion. Well, i dont know which one is my true fashion interest, but ternyata aku orang yang suka berbagai macam fashion.


Alter egoku juga muncul kalo ada dia. Aku yang lebih sering diem, jadi jahil dan cerewet banget nget nget. Padahal biasanya diem aja sambil baca komik. Kalo ngga sama keluarga, aku jarang ngomong. Tapi kalo sudah sama dia, sampe bingung dia gimana cara berhentiin ocehanku.



Senengnya adalah aku bisa menjadi dirku sendiri kalau sama dia. Sepertinya dia juga begitu, I felt he opened himself to me at the time he cried in front of me. The beautiful tears he showed only for me. Padahal dia ngga pernah nangis sesedih apapun dia. Maybe he became too sensitive regarding love and affection. Aku bersyukur karena dia orangnya straight to the point person. Dia akan bilang apa yang dia rasakan. Ngga ada njelimet2nya. Tapi dia selalu mengutarakannya dengan sopan.


Pernah baca di buku mana gitu, kalau merasa ngantuk dan bisa tidur di dekat orang yang kamu suka, itu artinya kamu ngerasa nyaman dan safe banget. Itulah yang aku rasakan sama dia. Dulu setiap ketemu dia, aku ngerasa ngantuk, sekarang setiap ketemu aku, dia jadi ngantuk. Hahaha. Bodoh ya?

peace and serenity, to be beside him (mukaku kayak kodok, XP)

Ya gitu deh.

So kesimpulannya hari ini:

“Hubungan yang nyaman adalah dimana kamu bisa menjadi kamu ; kamu yang sebenarnya.”

LDR (Lovely Distance Relationship)

Dear My Diary,

Kali ini aku pengen banget cerita tentang JARAK CINTA -jarak sejauh apapun akan terasa dekat jika ada cinta -

Why we are apart from each other?
To answer this question, I need to mention from where we are originally from. We are both from Bali, but we live in different regencies. I live in Gianyar, and he domains in Tabanan Regency. From Denpasar it`s about 26 km. From Denpasar to my city it`s about 9 km. So in total 26 9 = 35 km. From my house itself, it takes more than 1 hour if the traffic is light.
2005 - 2007 ; LDR PART 1. GIANYAR - TABANAN
Pada saat itu juga, dia kerja di Nusa Dua, kawasan paling ujung selatan dari pulau bali. Sekitar 30 km dari Denpasar ditempuh sekitar 35-45 menit tergantung traffic. Rumahku ngga setu jalur dengan jalur pulangnya dia. Jadi kalo dia mau ke rumah dan sekalian pulang ke rumahnya di Tabanan, total jarak yang diambil 26 30 2(9) = 74 kilometer.
(dari nusa dua ke rumahku /- 48 km, kalau dia balik lagi ke nusa dua maka jadi 96 km). Dan dia selalu naik motor. YUP! NAIK MOTOR!
ya kira2 begitulah jaraknya

Jarak antara Nusa Dua - rumahku hampir ditempuhnya setiap hari. Katanya sih pengen ketemu. Hanya karena pengen ketemu. Kadang karena ngga tega, mama papa ngasi ijin dia nginep dirumah. Kalau pas ngga ada kamar kosong, dia digelar-in kasur di ruang tamu lengkap dengan TV dan kipas angin (properti ruang tamu sih..hehe)

Itu berlangsung sampai pertengahan tahun 2007, keluarga dia pindah ke kabupaten Badung yang jaraknya lebih dekat. Mungkin hanya 30 menit dari rumahku. Aku bisa lebih gampang ketemu dia. Dia pindah kerja di tempat dekat sana, dan tempat kerjaku hanya 15 menit dari rumahnya. Kalau jadwal kami cocok, kami lunch bareng dirumahnya, with the parents of course.

September - December 2007; LDR PART 2. BALI -JAKARTA

Distance is 977 kilometers or 607 miles or 528 nautical miles


And then suddenly on September 2007, he got the scholarship to study in Netherlands. The initial language preparation was done in Jakarta. He moved there and LDR part 2 has started.
Telpon-telponan setiap malam, berat juga di ongkos ternyata. Tapi as long as our heart still connecting, it`s fine.

October 2007, my mom told me to join one airline`s recruitment. I was hesitated to go. Flight attendant was my dream long time back, but I totally forgot about it. I had a different kind of life achievement at the time, being a teacher.
To fulfill my mom`s desire, I went to the recruitment. I had a really bad feeling about this. Premonition of getting accepted and being far away from home, were clinging on my mind all time. "What if I got accepted? How about my relationship?"

And then my prediction came true, I got accepted. Semalam sebelum recruitment aku nelpon Denny, aku nangis sampe ketiduran karena takut keterima. Dan ternyata benar.

Desember 2007 - April 2008; LDR PART 3; DOHA - JAKARTA.

Distance is 6903 kilometers or 4290 miles or 3727 nautical miles


Teknologi sangat berperan besar pada tahap ini. Karena kalau ngga ada telpon dan internet, kayaknya aku sudah mati deh. Pada saat itu aku belum punya laptop sendiri, jadi setiap weekend aku ke warnet sekitar 10 menit jalan kaki, supaya bisa chatting sama dia di Jakarta.

Dalam 2 bulan, trainingku selesai dan aku sudah mulai terbang. My first solo flight was KL-Bali. Dan untungnya saat itu dia pas ada di Bali. Setelah lama sekali ngga ketemu, kami berpelukan dan semua air mata yang tertahan, jatuh bercucuran. Setelah itu, kami masih sempat bertemu di Jakarta.

April 2008 - May 2009 ; LDR PART 4 ; DOHA - ROTTERDAM.

Distance is 4931 kilometers or 3064 miles or 2663 nautical miles



April 2008, he moved to Holland. Yes! LDR part 4 has started! Tapi asyiknya adalah koneksi internet disana kenceng banget. Jadi YM dan skype adalah saksi perjuangan cinta kami. Walaupun sangat sulit, tapi setiap ada flight ke Eropa, dia akan berusaha datang. Dimulai dengan Frankfurt, Paris, Munich, London, Rome. Aku juga datang ke Rotterdam kalau ada libur atau cuti.

June - July 2009 LDR PART 5. DOHA - GHANA

Distance is 5929 kilometers or 3684 miles or 3201 nautical miles


This was the most though moment of LDR. Dia di afrika booooo!!!
Dia sedang ngerjain fieldwork untuk thesisnya. Dan gile bener, koneksi internet disana luaaaaar biasa hebatnya. Semenit dua menit putus. Itupun susah banget nyambungnya. Sms pun kadang nyampe kadang ngga. Kalo dia nelpon, muahalnyaaaaa minta ampun, 5 menit aja pulsa dah abis. Jaringan telpon juga kurang bagus. Dan dia sangat sibuk. Almost desperate but still surviving.
August - October 2009; LDR PART 6 ; DOHA - ROTTERDAM.
Sekembalinya dari Ghana, maka LDR berjalan normal, but he was busy doing his thesis.

November - December 2009; LDR PART 7 ; DOHA - BALI.

Distance is 7848 kilometers or 4876 miles or 4237 nautical miles


Fase ini kami lebih sering chat via smartphone. Lebih hemat walaupun ngga pernah videocall. Ngga merasa khawatir karena dia bersama keluarganya di Bali.

December 2009 - present ; LDR PART 8 ; DOHA - JAKARTA.
Kembali pada fase ini. Sayangnya fase ini aku ngerasa sangat lonely. Karena dia sudah bekerja tetap, sometimes more than 8 hours per day, dan bener2 DND (do not disturb). Untungnya ada smartphone. Kalau ngga ada, mungkin aku sudah koit sekarang.

Hehe, jadi inilah fase LDR kami.
Now I absolutely know why we are apart. Supaya kami lebih kuat secara lahir batin. Mungkin Tuhan membiarkan kami menyebar di tempat yang jauh supaya kami lebih siap menghadapi semua. Bahwa jarak dan waktu bisa diatasi walaupun dengan air mata.

Aku tau masih ada fase-fase selanjutnya, tapi kami akan bermetamorfosa seiring berjalannya waktu.

~Tetap semangat ya, walaupun LDR!!!~

HATE/LOVE

What makes you love someone?

Why you love someone?

What the hell did you do when you`re in love with someone?

Jangan coba jawab pertanyaan itu deh...

Karena aku maupun dia juga ngga bisa ngejawabnya.
Haha, bener.

I really dont know why I love him. Bukannya aku ngga tau, tapi aku ngga bisa mendeskripsikannya secara gamblang. Mungkin karena awalnya aku benci dia bukan maen.

hate to love...it does happen!



Suatu hari di bulan Juli 2002, lokasi bukit Jimbaran Bali, aku lagi digojlok dalam masa orientasi mahasiswa baru. Kakak kelas mendominasi adik kelas dan semuanya rata-rata pasang tampang galak. Semuanya pasang tampang sangar. Nah, saat itu ada pertemuan dengan himpunan mahasiswa jurusan. Aku liat dia untuk pertama kalinya. Dari pertama liat, aku sudah suka. Tapi sayangnya rasa suka itu ngga berlangsung lama, yang ada jadi SEBAL luar biasa.

Kebetulan orangtuaku keduanya arsitek, dan ternyata masuk dunia yang sama dengan ortu itu bukan hal yang mudah. Dari diledek tugasnya dibuatin ortu, ortu dikira dosen dan semuanya jadi manggut-manggut aja kalo aku ngomong. DAN sialnya lagi, si kakak kelas bernama Denny ini adalah orang yang paling jahil diantara biangnya jahil.

Banyak kali kejahilannya yang ngga masuk akal.
  • Mau maen ke rumah minjem buku (kalo mau minjem buku ke perpus aja napa? langsung aku tolak karna rumah jauh).
  • Bilang ada perlu masalah HMJ, ngasi nomer telpon, tapi pas dihubungi ngga bisa (katanya nomer hapenya ada tiga, ngga ngerti apa maksudnya, apa cewe-nya 3 juga?)
  • Gunting rambutku pas kegiatan ultah fakultas (apa coba maksudnya)
  • Ngeledek setiap ketemu "EEEEH yang bapaknya arsitek itu ya?" (Boleh kok yang diinget itu diriku aja, emangnya kamu temennya papaku ya?)
  • dan sebagainya dan sebagainya
Yah pokoknya aku sebel banget. Pas aku liat dia pake strap handphone yang sama, tuh strap langsung aku buang jauh2, saking sebalnya.

Setelah itu dia menghilang dari kehidupanku (damai).


Setelah beberapa tahun berlalu, tepatnya tengah tahun 2005, karena ada tawaran beasiswa ke Jepang, aku kembali dekat berkomunikasi dengan mahluk jahil itu. Tak disangka tak dinyana dia adalah penerima beasiswa tahun sebelumnya. Pantesan dia ngilang.
Mau ngga mau harus deket sama dia. Tapi ternyata dia ngga se-gendeng yang kubayangkan selama ini. Dia dengerin curhatku tentang sekolah dan tentang impian-impianku yang tersendat. Dan ternyata dialah yang membuka jalanku untuk mencapai impian-impianku.

Akhirnya aku berangkat ke Jepang (salah satu impianku tercapai...)

Sepulangnya aku dari Jepang, eh dia sudah deket sama keluarga aku, dan mamapapaku sangat suka dia. Hebatnya lagi, hubungan mereka sudah seperti orangtua dan anak. Mereka berdiskusi masalah pekerjaan dan masa depan, dan topik paling hot saat itu : AKU!

Setelah beberapa minggu pdkt, akhirnya jadian. Aku belum yakin sama perasaanku saat itu. Tapi aku yakin dia adalah orang yang paling berharga dan aku ngga mau kehilangan dia. Lama-lama jadi sayang and cinta deh.

Hehehe...

Tapi sampe sekarang aku ngga tau kenapa aku bisa cinta sama dia...:P

Kesimpulan:
Jangan benci seseorang sampe segitunya, yang ada malah jatuh cinta!

Why Sunflower and the sun

Dear My Diary,

sebenernya aku bingung banget mau ngasih nama blog ini apaan. Tapi setelah diputuskan dengan cemerlang, akhirnya aku kasi nama sunflowerandthesun.

You know why?

Becoz,
actually our name are having those words. Somewhere in my name, suryakusuma : sunflower, bunga matahari, himawari (adiknya shin-chan kalee)

do i look like this?


And his name, Surya, means the Sun, matahari, taiyou. Not only literally, but he also has the energy of the sun. Energy Never Dies!!! (kecuali kalo habis makan kekenyangan..hehe)

he is the sun, full of energy

So, that`s why i named this blog sunflowerandthesun.

And there is another meaning...
Sunflowers in the bud stage exhibit heliotropism. At sunrise, the faces of most sunflowers are turned towards the east. Over the course of the day, they follow the sun from east to west, while at night they return to an eastward orientation. This motion is performed by motor cells in the pulvinus, a flexible segment of the stem just below the bud. As the bud stage ends, the stem stiffens and the blooming stage is reached. (sumber wikipedia)

Mungkin semua sudah tau kalau bunga matahari itu kembangnya ngikutin matahari. Dan begitu pula dengan aku. Entah kenapa, tanpa sadar, aku hidup mengikuti dia. Walaupun jarak dan waktu kami terpisah jauh bagaikan bunga dan matahari, tapi aku selalu berpikir, bergerak, dan berbicara dengan dia sebagai center pointnya.

Kesannya egois?
Justru sama sekali ngga. Dengan berbicara dengan dia, aku ngerasa wawasan jadi tambah luas, dan kecintaanku terhadap keluarga jadi bertambah.

Thanks GOD I have him by my side, even though our distance is unbearable.

Wednesday, July 21, 2010

When we walk the same path again...

21 Maret 2010,Sunday

soundtrack : GReeeN - Kiseki
Hibi no naka de chiisana shiawase
Mitsuke kasane yukkuri aruita kiseki
Bokura no deai wa ookina sekai de
Chiisana dekigoto meguriaeta
Sore tte kiseki
"We found a little happiness each day, in the path that we walk slowly. Our meeting maybe only a small thing in this big world, but the fact that we met is a miracle."

I spend the day in Munich yesterday. Munich, a Bavarian city known the best for the soccer team Bayern Munchen, Neuchwansteinn schloss, and the beer (for sure!!). That was another job to do, so I had to go around with my colleagues, and I enjoyed the companion. Munich adalah kota yang spesial banget buat aku. Kenapa? Karena kota ini pernah kulalui bersama dengan Denny.
Walaupun cuma `pernah`, tapi rasanya bahagia banget. Aku ngga pernah nyangka dalam hidupku aku bisa ketemu sama pacarku di suatu kota di luar negeri. Ngga pernah kebayang. But it happened. So many times.

Di Munich ini aku belajar banyak tentang teamwork dan pengorbanan, tentunya bersama dia.
Belajar memutuskan sesuatu, contohnya; mau pergi kemana, what to eat, where to eat, how much time we should spend in one place, my interest, his interest, masalah narsisme, dan masalah mengendalikan emosi PMS. Seems really hard, isn`t it?

10 April 2009Munich - Germany
Okay, perjalanan dia kali ini ngga gampang, kali ini dia harus melewati rintangan bernama WAKTU yang ngga ada cocok2nya. Arrival time aku dan jadwal arrival train dia ngga memungkinkan untuk dia dateng pada hari- H saja. So dia harus menginap di hostel untuk semalam.

Esok paginya, aku tiba di Munich dan sampai penginapan pagi hari. Tempat dia menginap ada kurang lebih 15 menit by tram dari hotelku. Karena kesalahan skala peta, maka dia berjalan kaki dari hostel sampai Englishgarten dan kami berjumpa disana.

Dari Englishgarten ke hotelku 5 menit jalan kaki, jadi kami taruh barang disana (GILA, BACKPACK DIA BERATNYA 20 KG LEBIH, KAYAKNYA DIA BAWA BERAS!!!), lalu kami menuju city center dengan tram.
encok habis bawa karung beras

Problem 1 :
makan apa / di mana?
Ini kayaknya problem yang simple, tapi membunuh!
Terjadi ngga di Bali, di Jakarta, sampe di Munich juga. Come on, you`re kidding me. Momen spesial kayak gini selalu dikacaukan masalah perut! Setelah pusing mikirin makanan, akhirnya kita mutusin makan all you can eat 5.50 Euro (restoran Cina). Kenapa? Karena bisa makan dan nambah sepuasnya.

aku ditraktir tiramisu....suka suka suka

Problem 2 :
Pergi ke mana?
"Sekarang kita ke mana?"
Nah, jawabnya sih gampang, but because I`ve been there before, sedangkan dia belum pernah kesana, dia mempercayakan instingku untuk menuju tempat tujuan. Dan hasilnya : NYASAR!
Dia ngga marah sih, tapi waktu kita yang sempit makin sempit aja jadinya.

Problem 3 :
"Baju itemnya bikin panas..." atau " Ribet amat nih pake cardigan pas summer, lepas ngga ya?"
Percaya atau ngga, kostum yang kita pakai juga menentukan suasana hati. Wear proper cloth for your journey.

Problem 4 :
"Kok motonya gitu sih, sudah susah2 gaya, kok yang dipoto malah gedungnya. Anglenya ngga bagus tuh!"
Nyebelin! Sudah susah2 dipotoin, eh malah ngomel2. Kan aku bukan potograper propesional nong! hahaha. Tapi seru juga berantem gara2 poto.
anglenya katanya kurang mantap

Problem 5 :
"O-oh..kayaknya aku dapet deh..ayo balik." (padahal belum semua lokasi kesampean)
Sebenernya dia ngga kenapa napa. Tapi aku-nya yang jadi sensi setengah mati. Semua rencana mau kesini kesana jadi gagal karena sakit perut. Perfect! :( Karena baru abis tugas terbamg juga mungkin jadi capek banget.
tiba2 capek dan ngantuk

Tapi...
dengan dilaluinya hari itu setahun yang lalu, hari ini aku senyum-senyum sendiri di Munich. Walaupun sebenernya aku cuma nganterin temen2 yang belum pernah kesana, tapi aku jadi hapal jalan disana karena semua hal yang kulalui bersama Denny sangat membekas di ingatan. Tempat kita makan, stasiun tempat kita stop, dan yang terpenting, THE FACT THAT WE MET THERE WAS THE TRUE MIRACLE.

di marienplatz