Thursday, September 9, 2010

Takut:_ tak ingin kutemui

09 September 2010

Soundtrack today : 1999*4##11
tabun sou nanda kitto sou nanda
Maybe it?s really like that, it?s definitely like that

atarimae ni sonzai suru mono nanda
It?s existence is way beyond doubt after all

dakara boku wa sore wo ?tokubetsu? ni shitanda
That?s why I made it into a code which says ?special?

kossori dare ni mo barenai you ni?
Just so that no one would find out about it?

soushitara jibun dake no imi wo kangaedasu darou na
And if you do, I guess you?d be thinking of the meaning only known to yourself


Waaah, sudah lama sekali ngga nulis blog. Terakhir bulan Juni ya? Yah so many things have happened. I lost my mood to write. Hik...hik... Banyak hal terjadi dan ngga semuanya mampu diceritakan. Tapi demi mengobati kerinduan akan menulis dan mengobati kerinduan penggemar (bletak! kok ada sandal terbang kesini??), maka saya menulis kembali. Fufufufu....

Begini ceritanya. Jadi setelah keluarga kami berembug, maka diputuskan bahwa pernikahan akan dilaksanakan Januari 2011. Jadi maju dari rencana awal yang ngasal aja ngambil tanggal 20112011 yang ternyata... mana tahaaaaaan bo! Hahaha. Habisnya kelamaan sih.

Tapi dengan keadaan kami yang berjauhan, aku masih di Qatar, dia di Jakarta, nikahan kami nanti di Bali, kok rasanya susah betul ya. Menyatukan pikiran kami masih terasa gampang, tapi menyatukan pendapat dan usulan semua pihak yang kami sayangi itu yang sulit. Banyak hal yang ngga mungkin bisa dilaksanakan. Mungkin inilah saatnya menjadi orang dewasa yang sebenernya: berani menentukan pilihan.


Jakarta, 20 Agustus 2010
Sore hari, jam 5 lebih, aku baru sampai di Cengkareng. Delayed arrival dan bis jemputan yang telat dateng bikin rencanaku berantakan. Padahal aku sudah punya rencana mau buka puasa bersama di rumah temennya Denny di Jakarta. Udah bawa oleh-oleh kurma dan baklava segala. Huhuhu. Karena telat dateng ini juga, rencana jadi berubah. Denny dateng ke hotel dan kita cerita2 sampe pagi.


Keesokan harinya, kami ke Thamrin City alias Pasar Tasik untuk lihat2 kain. Wah, rame banget ya. Aku belum pernah ke pasar yang mayoritas isinya baju muslim, mukenah dan batik. Denny yang biasanya paling benci tempat rame pun akhirnya jadi tentara gerilyawan bagian tawar menawar. Amboi! Dia hebat sekali! Nawar sampai dagangnya mencak-mencak pake bahasa Jawa (mbak, inget mbak ini bulan puasa)..

Lalu setelah makan siang (yang hebatnya 1 porsi cuma 8000 rupiah! Memang top banget Indonesia ini), kami lanjut ke Grand Indonesia. Memang hebat ya orang indonesia, punya mall super branded kayak gini, punya pasar tradisional yang super modern, punya daerah kumuh, punya daerah terpencil, semuanya ada. Disana kami searching bridal dan everything about wedding. Lalu ketemulah bridal yang gaunnya didatangkan dari Perancis. Aku lupa nama bridalnya apa, tapi pas masuk dan nanya harganya, aku langsung kehilangan mood karna 1 bajunya minimal 20 juta. Maaaaak!

Nah beberapa meter dari bridal ini, ada Rumah Penganten by Anne Avantie. Mungkin temen2 nganggep ini norak banget, tapi aku adalah penggemar berat karya-karya Anne Avantie. Kebayanya keren-keren banget dan memang eksklusif. Dan harganya juga yang selangit. Nah sesampainya di depan etalase, beliau ada! Sedang berbicara dengan 3 orang perempuan, ditemani dengan asistennya.

Jantungku berdegup kencang tiba2! Kencang banget sampe aku bisa denger sendiri detak jantungku berderap seperti tentara gerak jalan di upacara 17 agustusan. Denny langsung ngajak masuk ke sana.

Denny : "Ayo yang. Kita masuk."

Aku sudah kaku. Badanku menolak untuk masuk. Tanganku dingin. Basah dan lembab karena keringat dingin. Bulu kudukku berdiri. Kakiku kaku.

Ninied : "Nggak ah!"

Denny : "Lho?"

Ninied : " Ada yang! Itu ada orangnya. Itu yang pake konde pake syal itu. Ngga yang. Ngga mau masuk. Ntar nid harus bilang apa? Mana pake baju kaya gini lagi. Ngga yang. Ngga usah!"

NOTE:
kehilangan ke-pede-an karna baju adalah sesuatu yang salah. Bajuku waktu itu adalah: atasan coklat beli di Bali seharga 40ribu, celana jeans abu2 terang yang sudah sangat belel, tas etnik seharga 80rb dong made in vietnam, sepatu sandal charles and keith diskon 30%. apa yang salah coba? harusnya aku pede dong. tapi kok tiba2 aku malu karna penampilan gembelku.

Aku menolak dengan segenap jiwa. Aku menolak seperti kucing yang menolak untuk diajak mandi. Biarpun bagus untuk diri sendiri, tapi aku bener2 ketakutan kayak mau ketemu presiden.

Denny : "Ayang kok tumben kayak gini? Skydiving aja ayang ngga takut. Kok mau ketemu Anne Avantie aja takut?"

*fyi: Aku memang skydiving (terjun payung) di Houston, Texas pada akhir Juli lalu. Itu hal tergila yang pernah aku lakukan tanpa ijin. Lompat dari 12000 kaki, dan membiarkan diri dengan santai terbawa angin, dan ngga bilang2 dulu sama siapapun termasuk Denny! Rasanya: kayak jatuh dari tempat tidur!

Ninied : "Kalo ayang suruh nid terjun lagi, nid ngga bakal nolak yang. Tapi kalo ketemu desainer ini langsung... NGGA MAU!"

Denny : "Kenapa sih? Kan cuma nanya-nanya. Ayo!" Denny langsung menarik tanganku dan aku terseret2.

Ninied : "NGGA MAUUUU!!!" Sambil menahan badan biar ngga terseret. Tiba2 nafasku langsung cepat. Oh no! I got hyperventilation because of Anne Avantie. Sesak napas!!!

Denny : " Kok tangan ayang dingin gini?"

Ninied : "NGGA MAUUUU!!!!"

Denny akhirnya nyerah.

Ninied : "Pokoknya ngga mau yang. Mendingan nid terjun payung! Takut nok!" Aku melihat 2 bangku di seberang. "Ninied mau duduk aja. Tunggu dulu. Give me sometime to think..."

Denny mengiyakan. Tapi dia heran. Super heran. Aku yang dia kenal ngga takut apapun, kecuali kupu2 dan kecoak, bisa2nya takut ketemu Anne Avantie. Ninied yang ketemu ngga takut ketemu arsitek ternama dunia Tadao Ando, bisa takut ketemu Anne Avantie. Ninied yang dengan beraninya ngelewatin rumah hantu di Madam Tussaud Amsterdam, bisa takut ketemu Anne Avantie. Ninied yang udah terjun payung tanpa seijinnya di Texas, bisa takut ketemu Anne Avantie.

Dia cuma memegangi tanganku yang dingin. "Sampe dingin gini! Ayang? Kok bisa sih? Hahaha!"

Kalo aku lebih milih disuntik 15kali berturut2 dah!

Dari tempat kududuk, kulihat beliau lagi berbicara dengan 3 perempuan itu. Ngga berapa lama, mereka pergi dan beliau masuk ke kantornya yang tertutup dari luar. Aku mulai sadar dari histeria. Glukosa mulai mengisi darahku. Dan aku mulai bisa merasakan kakiku lagi.

Aku langsung berdiri. "Yuk yang. Masuk. Kita nanya2."

Denny tambah heran. "Udah baikan?"

"Yuk. Sebelum nid berubah pikiran..."

Akhirnya kami masuk dan melihat2 koleksinya. Memang karyanya itu sangat sangat sangat super duper indah. Rasanya ada di alam lain yang bener2 indah melihat koleksinya. Gemerlap. Gemilang. Eksotik. Sempurna.

Mbak penjaga toko memberi salam.

"Selamat siang kak."

Ninied : "Selamat siang"

Mbak : "Mau cari kebaya buat nikahan ya kak?"

Ninied : "Iya. Mbak, saya ini penggemar berat BELIAU. MAkanya begitu liat kebayanya saya langsung sesek napas. Gila, bagus banget ya."

Mbak :" Bunda ada lho di dalam. Tadi baru aja fitting."

Iya, makanya nunggu sampe orang2 itu pergi dan si bunda masuk kedalem.

Ninied " Iya. Saya tadi lihat. Saya lihat2 dulu ya mba."

Aku melihat sekeliling. Denny sudah sibuk ngeliat sana sini. Dia heboh sendiri. Aku tertegun sama satu kebaya yang ada buntutnya dan ada obinya. Modelnya jadi kayak kebaya Bali pake senteng (sabuk).

Ninied : "Mbak. Kalo harganya berapa ya mbak?

Mbak :" Kalo yang pendek itu 20juta kak. Yang panjang itu 60juta. Itu ready stock ya. Kalau bikin, tergantung negonya aja sama bunda. Mungkin bisa dapet 45 juta."

Glek!
Aku nawar tahu di pasar aja bisa grogi setengah mampus, dan pasti ngga jadi nawar. Apalagi nawar kebaya. Jangan2 malah harganya jadi naik.

Tapi mahal juga ya buat kebaya bagus. Memang kualitasnya sebanding sama harganya. Takjub. Tapi kalau harga kebaya yang akan dipakai buat sehari aja harganya segitu, mending aku beli sapi 2 ekor, terus beranak, terus dijual, terus beranak lagi dijual lagi. Kalo hasil penjualan sapi dah sampe 60 juta. Baru aku beli kebaya 60juta. Kalo si sapi sudah tua, dia akan kurawat sampai nafasnya yang terakhir. Terima kasih sapi. Takkan kulupakan jasamu.

Denny pun takjub dengan kebaya yang ada disana. Dia bilang kebayanya memang bagus. Ngga salah harganya mahal. Dia sebenernya ngga keberatan dan ingin sekali aku memakai kebaya itu. Tapi aku tak sanggup.

Setelah puas memandangi dan berkhayal mengenakan kebaya itu, kami keluar dari tempat itu dengan gembira. Aku pun cukup puas dengan hanya memandangnya. Dan kami pun menemukan satu tempat lain yaitu BRUTUS tempat buat jas untuk pria.

...

Sekarang giliran Denny yang menolak diajak masuk.

CASE CLOSED. Kesimpulannya: kami memang ngga bisa ketemu desainer baju.

No comments:

Post a Comment