Dear My Diary,
Few days ago, I had a quite serious talk with my friend. It was about “It’s enjoyable to show your true self in a relationship.”
Awalnya, kita cuma ngobrol2 biasa aja. Tentang kerjaan, tentang makanan, lama2 nyangkut ke love life. Iya, dia baru memulai hubungan dengan pacarnya. Tapi sudah kenal lama. Dan baru kali ini dia bisa ngerasain yang namanya true-self relationship (aku ngarang kata –trueself- ya. Jangan ditiru. )
Well, I also had the same experience when I started the new relationship with Denny. Waktu pertama kali ngejalanin pacaran sama dia, 2 bulan pertama, aku bener2 jaim. Bilang ‘iya’ walopun kadang2 hatiku bilang ‘ngga’. Senyum padahal lagi pengen marah2. Terus maksain melek padahal dah ngantuk banget (tidur itu hobiku banget). Semua itu karena aku belum bisa menata perasaanku dengan baik. Perasaanku masih kacau waktu itu. Antara dia, kuliah, mantan, keluarga, teman, sahabat, dan segala-galanya.
Tapi setelah pertengkaran-nangis-baikan-berantem hebat-maaf2an-baikan lagi, we could show the true self to each other. Mau marah, ya marah aja. Mau ngambek, ngambek aja. Mau peluk, ya peluk aja. Haha, so simple. If I want to fart too, just do it in front of him, and he won’t mind. It’s nice, isnt it? Perasaanku jadi lebih hangat setelah menjadi diri sendiri. He realizes my presence with complex emotions, hehehe...

Pernah sekali kita chatting dan ngobrol lucu2an. Katanya dulu dia memutuskan jadian sama aku karena aku GUYUL (baca: kampungan-jelek- bahasa bali). Ya elaaah. Harga diriku tercoreng moreng. Hahahaha. Tapi sebenernya aku seneng juga. Karna terus terang aja, aku seneng banget dia jadian sama aku sewaktu aku masih jelek (baca: sekarang juga jelek, haha). Dulu aku paling benci dandan. Ngga pernah ngurus diri, pakai lotion aja bisa sekali sebulan. Baju wajib : hitam dan sepatu sneakers. Rambut panjang, hitam, lurus dan kusut. Pokoknya gembel version deh. Tapi anehnya kalo sama dia, the lady inside me is showing up. Aku jadi suka dandan, suka pake dress, atau mini skirt with all the accessories. Kalo sendirian, aku kembali jadi the most rebel style of ninied.

Baju hitam, rambut ikat seenaknya, jeans dan sneakers
Aku sekarang sudah lebih sadar akan perawatan diri. Bahwa menjaga diri, wajah dan tubuh itu penting. Bukan untuk orang lain, tapi untuk diri sendiri. Kayaknya sekarang sudah ngga terlalu guyul. Tapi masih gembel style jadi favorite aku. Untungnya dia juga ngga keberatan aku pakai baju apa. Semua tergantung aku, kalo aku nyaman, yah silahkan aja. Rok mini? No big deal, as long as it is in proper occasion. Well, i dont know which one is my true fashion interest, but ternyata aku orang yang suka berbagai macam fashion.
Alter egoku juga muncul kalo ada dia. Aku yang lebih sering diem, jadi jahil dan cerewet banget nget nget. Padahal biasanya diem aja sambil baca komik. Kalo ngga sama keluarga, aku jarang ngomong. Tapi kalo sudah sama dia, sampe bingung dia gimana cara berhentiin ocehanku.
Senengnya adalah aku bisa menjadi dirku sendiri kalau sama dia. Sepertinya dia juga begitu, I felt he opened himself to me at the time he cried in front of me. The beautiful tears he showed only for me. Padahal dia ngga pernah nangis sesedih apapun dia. Maybe he became too sensitive regarding love and affection. Aku bersyukur karena dia orangnya straight to the point person. Dia akan bilang apa yang dia rasakan. Ngga ada njelimet2nya. Tapi dia selalu mengutarakannya dengan sopan.
Pernah baca di buku mana gitu, kalau merasa ngantuk dan bisa tidur di dekat orang yang kamu suka, itu artinya kamu ngerasa nyaman dan safe banget. Itulah yang aku rasakan sama dia. Dulu setiap ketemu dia, aku ngerasa ngantuk, sekarang setiap ketemu aku, dia jadi ngantuk. Hahaha. Bodoh ya?

peace and serenity, to be beside him (mukaku kayak kodok, XP)
Ya gitu deh.
So kesimpulannya hari ini:
“Hubungan yang nyaman adalah dimana kamu bisa menjadi kamu ; kamu yang sebenarnya.”
No comments:
Post a Comment