Wednesday, July 21, 2010

When we walk the same path again...

21 Maret 2010,Sunday

soundtrack : GReeeN - Kiseki
Hibi no naka de chiisana shiawase
Mitsuke kasane yukkuri aruita kiseki
Bokura no deai wa ookina sekai de
Chiisana dekigoto meguriaeta
Sore tte kiseki
"We found a little happiness each day, in the path that we walk slowly. Our meeting maybe only a small thing in this big world, but the fact that we met is a miracle."

I spend the day in Munich yesterday. Munich, a Bavarian city known the best for the soccer team Bayern Munchen, Neuchwansteinn schloss, and the beer (for sure!!). That was another job to do, so I had to go around with my colleagues, and I enjoyed the companion. Munich adalah kota yang spesial banget buat aku. Kenapa? Karena kota ini pernah kulalui bersama dengan Denny.
Walaupun cuma `pernah`, tapi rasanya bahagia banget. Aku ngga pernah nyangka dalam hidupku aku bisa ketemu sama pacarku di suatu kota di luar negeri. Ngga pernah kebayang. But it happened. So many times.

Di Munich ini aku belajar banyak tentang teamwork dan pengorbanan, tentunya bersama dia.
Belajar memutuskan sesuatu, contohnya; mau pergi kemana, what to eat, where to eat, how much time we should spend in one place, my interest, his interest, masalah narsisme, dan masalah mengendalikan emosi PMS. Seems really hard, isn`t it?

10 April 2009Munich - Germany
Okay, perjalanan dia kali ini ngga gampang, kali ini dia harus melewati rintangan bernama WAKTU yang ngga ada cocok2nya. Arrival time aku dan jadwal arrival train dia ngga memungkinkan untuk dia dateng pada hari- H saja. So dia harus menginap di hostel untuk semalam.

Esok paginya, aku tiba di Munich dan sampai penginapan pagi hari. Tempat dia menginap ada kurang lebih 15 menit by tram dari hotelku. Karena kesalahan skala peta, maka dia berjalan kaki dari hostel sampai Englishgarten dan kami berjumpa disana.

Dari Englishgarten ke hotelku 5 menit jalan kaki, jadi kami taruh barang disana (GILA, BACKPACK DIA BERATNYA 20 KG LEBIH, KAYAKNYA DIA BAWA BERAS!!!), lalu kami menuju city center dengan tram.
encok habis bawa karung beras

Problem 1 :
makan apa / di mana?
Ini kayaknya problem yang simple, tapi membunuh!
Terjadi ngga di Bali, di Jakarta, sampe di Munich juga. Come on, you`re kidding me. Momen spesial kayak gini selalu dikacaukan masalah perut! Setelah pusing mikirin makanan, akhirnya kita mutusin makan all you can eat 5.50 Euro (restoran Cina). Kenapa? Karena bisa makan dan nambah sepuasnya.

aku ditraktir tiramisu....suka suka suka

Problem 2 :
Pergi ke mana?
"Sekarang kita ke mana?"
Nah, jawabnya sih gampang, but because I`ve been there before, sedangkan dia belum pernah kesana, dia mempercayakan instingku untuk menuju tempat tujuan. Dan hasilnya : NYASAR!
Dia ngga marah sih, tapi waktu kita yang sempit makin sempit aja jadinya.

Problem 3 :
"Baju itemnya bikin panas..." atau " Ribet amat nih pake cardigan pas summer, lepas ngga ya?"
Percaya atau ngga, kostum yang kita pakai juga menentukan suasana hati. Wear proper cloth for your journey.

Problem 4 :
"Kok motonya gitu sih, sudah susah2 gaya, kok yang dipoto malah gedungnya. Anglenya ngga bagus tuh!"
Nyebelin! Sudah susah2 dipotoin, eh malah ngomel2. Kan aku bukan potograper propesional nong! hahaha. Tapi seru juga berantem gara2 poto.
anglenya katanya kurang mantap

Problem 5 :
"O-oh..kayaknya aku dapet deh..ayo balik." (padahal belum semua lokasi kesampean)
Sebenernya dia ngga kenapa napa. Tapi aku-nya yang jadi sensi setengah mati. Semua rencana mau kesini kesana jadi gagal karena sakit perut. Perfect! :( Karena baru abis tugas terbamg juga mungkin jadi capek banget.
tiba2 capek dan ngantuk

Tapi...
dengan dilaluinya hari itu setahun yang lalu, hari ini aku senyum-senyum sendiri di Munich. Walaupun sebenernya aku cuma nganterin temen2 yang belum pernah kesana, tapi aku jadi hapal jalan disana karena semua hal yang kulalui bersama Denny sangat membekas di ingatan. Tempat kita makan, stasiun tempat kita stop, dan yang terpenting, THE FACT THAT WE MET THERE WAS THE TRUE MIRACLE.

di marienplatz


No comments:

Post a Comment